Monday, November 21, 2016

Thoughts: Let us be grateful to the people who make us happy



Picture source: pinterest

Sudah lama sekali saya ingin menulis tentang hal ini, tapi beberapa kali saya urungkan niat saya karena jujur saja, I just don't know how to put it in a right way yang ujung-ujungnya berakhir sebagai draft. Tapi ya sudah lah akhirnya saya pun memutuskan untuk menulis karena saya memang mau berterima kasih.

Banyak hal yang membuat saya bahagia di hidup saya, mulai dari hal yang paling sederhana yaitu saat saya makan mie goreng hahaha.. I know, but a plate of those instant noodle does make me happy... Sampai dengan hal-hal besar seperti bisa melahirkan seorang putri dan lain lain. Walaupun saya juga orang normal yang nggak selalu happy atau easy going, juga saya nggak selalu optimis dan suka ngomel kalau udah sumpek, tapi saya selalu mencoba bersyukur. Bersyukur akan banyak hal, salah satunya adalah bersyukur dengan keberadaan orang orang terdekat saya atau mengenal saya secara pribadi, seperti keluarga ataupun teman. 

Yup, saya bersyukur dengan orang-orang yang pernah membuat saya sedih, senang, tertawa, marah atau kecewa. Karena kalau bukan karena orang-orang tersebut saya nggak berkembang dan belajar. Tetapi hari ini rasa syukur dan terima kasih saya berbeda, bukan hanya syukur saya untuk orang orang yang saya kenal secara pribadi, melainkan terhadap mereka, yaitu orang orang yang sebetulnya tidak mengenal saya secara personal tetapi masih menyempatkan untuk memberikan pesan pesan yang membuat saya mikir 'Wah does someone really think of me that way?' in a good way and  that kind of thing.


Saya adalah orang yang memilih untuk keep my circle close and small, close and small enough to fuel my need. Jadi jelas kalau orang orang yang berada di sekitar saya adalah orang orang terdekat saya yang mayoritas mengenal saya secara pribadi. Tetapi alhamdulillah beberapa kali ada beberapa orang di 'luar' kehidupan saya yang belum pernah bertemu saya atau sekedar ngefollow saya di social media memilih untuk membuat hati saya senang dengan meluangkan waktu mereka untuk mengirim pesan ke saya. Walaupun masih bisa dihitung dengan jari, tapi beberapa kali saya mendapat pesan baik melalui direct message di instagram, comment di blog ini, bahkan juga ada yang meluangkan waktunya untuk mengirimkan email untuk saya. Tidak perlu dijelaskan apa isi dari pesan yang mereka sampaikan, tetapi jelas saya sangat bahagia dengan apa yang sudah saya baca. Kalau boleh geer sih membuat saya merasa dipuji hehehe and believe me, it's not in a creepy way ya! It was in a heartwarming way tentunya (karena kalau tidak heartwarming hati saya pun nggak akan tergerak untuk menulis post ini haha) :) 


So...

I thank those people who making time to make me happy,

I thank them who make me feel like I've done something right,

I thank them who make me feel good about myself,

Thank you very much for giving me an opportunity making my soul blossom. 

You know who you are, guys.

Saturday, October 1, 2016

Writing: Menulis, Merasa, Menyembuhkan

Menggerakan jemariku dengan pena dan menggoreskannya di selembar kertas,
Ataupun membiarkannya menari di atas mesin yang menimbulkan bunyi 'tik tik tik' saat ku menekannya..

Apapun pilihannya
Buatku menulis adalah merasa
Buatku menulis adalah menyembuhkan

Merasa atau menyembuhkan adalah prosesku di dalam menikmati ruang kebebasan

Selamat merasa,
Selamat menyembuhkan..

Semoga kita semua merasa bahagia dan cukup.

Friday, September 30, 2016

Thoughts: Funny How Universe Works

Kemarin saya mengupload foto ke instagram dan bercerita tentang hal yang sama, hanya di blog ini akan lebih panjang mungkin ya ceritanya...

Funny how universe works. 
Saat saya buka notebook yang sudah lama ga tersentuh karena masih di dalam kardus pindahan, saya kaget. Kaget karena sewaktu baca-baca tulisannya, ternyata banyak hal yang tertulis di buku itu yang secara ga sadar sudah kejadian atau tercapai.
Salah satunya adalah tulisan di tanggal '13 Agustus 2015' yan isinya beberapa nama perempuan di mana salah satu nama tersebut adalah 'Aluna'. Memang dulu hanya sekedar tulisan sambil mimpi mimpi sedikit kalau suatu hari punya anak perempuan dan mau memilih nama. Tapi siapa sangka, satu tahun kemudian tepat pada tanggal '13 Agustus 2016', benar benar terlahir anak perempuan dengan nama 'Aluna'.

Di samping itu saya juga menuliskan kalau saya ingin tinggal di Surabaya (dan sederet kota kota di dalam/luar negeri yang pingin saya kunjungi-- haha kalo ini sih ngarep ya!) bersama keluarga kecil yang sehat dan bahagia. Well.. Look where I am now. I am now living in Surabaya with my healthy and happy little family.

Funny how universe works...
Beberapa waktu lalu suami saya menemukan buku catatan yang saya kasih sewaktu dia masih baru-baru lulus dari Akademi Angkatan Laut tahun 2013. Sebelum saya kasih ke suami saya, sebelumnya saya banyak menulis di buku itu tentang luapan kebahagian dia telah lulus, tulisan doa, harapan dan juga sedikit catatan pengingat untuknya di saat dia merasa down. Setelah saya kasih ke suami saya, saya nggak pernah minta atau utak atik lagi. Saya bahkan tidak tahu bahwa buku itu dijadikan buku catatan oleh suami saya untuk menulis catatan pelajaran dan juga tempat menulis harapan dan keinginannya. Oh call us too cheesy, but we do believe in hopes :)

Sama seperti saya, setelah beberapa waktu, buku itu tidak lagi digunakan oleh suami saya alias 'terkubur' gitu aja hehe. Entah bagaimana ceritanya, suami saya tiba-tiba menemukan buku itu kembali dan saat membukanya kembali, suami saya juga kaget dengan isi-isinya. Suami saya memperlihatkan kepada saya tentang tulisan di dalam buku itu, yang di mana isinya berupa keinginan dan harapannya. Hal itu dimulai dari harapan tentang kehidupan pribadinya dengan saya sampai kehidupan pekerjaannya. Lucunya, tulisan dia tentang harapannya itu hampir sudah tercapai semua... 

Yang saya sadari adalah, mungkin apa yang saya atau suami saya tulis itu adalah hal-hal yang kita yakini. Mungkin saat itu sewaktu saya menulis, saya tidak secara langsung berdoa untuk punya anak perempuan dan tinggal di Surabaya, tapi mungkin sewaktu saya menulis itu jauh di dalam hati saya (sadar atau tidak), jiwa saya meyakini bahwa suatu saat saya akan mempunyai anak perempuan dan tinggal di Surabaya.

Saya berpikir 'kok bisa ya?'. Mau memutar otak sampai pusing pun saya ga mengerti. Ah entahlah, andai saya paham bagaimana Tuhan dengan alamnya mengatur itu semua, kalau saya paham kan bersyukur dan bersikap optimis pun akan menjadi semudah itu.

Tapi saya percaya bahwa kuncinya adalah satu, yaitu yakin. Yakin akan hal-hal positif.
Mungkin akan tercapai dalam waktu dekat,
Mungkin akan tercapai dalam waktu yang cukup lama,

Yakin, kalau Tuhan dan alamnya mendengar doa dan harapan kita. Toh kalau tidak tercapai, dengan keyakinan yang kuat kita akan tetap menjalaninya dengan optimis dan mungkin di sana Tuhan mengingatkan kita bahwa ada hal yang lebih baik yang perlu kita yakini.

Hal itu pun membuat saya percaya bahwa if I smile through my heart to the universe, then the universe will smiles back at me and until the universe stops working, I will not stop believing.

Thursday, July 21, 2016

Thoughts: Cerita di Bulan Kedelapan

DELAPAN.
Waktu telah berlalu dan bulan Juli ini tertanda sebagai bulan ke delapan saya: telah menikah, tinggal di Surabaya dan mengandung calon anak pertama saya. Ya, alhamdulillah saya dan suami dianggap mampu oleh Tuhan untuk menjadi orang tua, saya hamil di saat usia pernikahan kami baru satu bulan. Alhamdulillah.

Waktu jelas berlalu. Saya nggak mau bilang 'berlalu begitu cepat' karena jujur saja pasti ada hari-hari di mana waktu berjalan begitu lambat dan membosankan. Di bulan kedelapan ini saya sudah mencicipi terik/panasnya kota Surabaya, yang di mana saya rasa nggak akan pernah bisa saya nikmati sampai kapanpun. Juga setelah menikah dan tinggal di rumah sendiri bikin saya sudah melakukan hal yang sebelumnya nggak saya lakukan saat masih tinggal bersama orang tua. Mau nggak mau saya dan hanya saya yang in charge untuk membayar tagihan listrik, air, tv kabel/internet, PBB dan mengurus urusan yang lain dan lain lain hahaha. Tapi kalau nggak gitu kan saya nggak akan pernah belajar dan nggak akan pernah memahami bahwa apa yang dilakukan oleh Ibu saya selama ini dalam mengurus rumah itu ternyata nggak pantas untuk disepelekan.

Oh ya, di samping itu untuk urusan kuliner di Surabaya memang nggak perlu diragukan lagi. Tapi dengan berat hati saya harus bilang kalau saya seringkali pingin pergi ke Jakarta cuma buat makan di restoran yang cuma adalah di Jakarta dan yang rasanya 'kok lebih enak yang di Jakarta' ya..

Hmm.. Terus di Jakarta saya terbiasa dengan kondisi rumah yang ramai dan banyak orang, tapi setelah pindah saya harus beradaptasi dengan situasi perumahan yang tenang (bahkan mungkin terlalu tenang) dan sepi. Apalagi kalau suami sedang jadwal dinas jaga, saya tambah harus beradaptasi lagi dengan sepinya rumah. Tapi entah kenapa dan alhamdulillah saya nggak pernah merasa kesepian, sedih ataupun 'kosong', saya bawa happy aja.

Terlepas itu semua, di bulan kedelapan ini setidaknya saya merasakan kebalikan dari teriknya Surabaya, yaitu basah dan mendungnya kota Surabaya. Beberapa waktu terakhir hujan turun lumayan deras di daerah rumah saya dan hal itu paling nggak untuk saya membuat Surabaya akhirnya terasa nyaman, membuat rumah saya menjadi jauh lebih homy dan somehow bikin saya semakin semangat dan terinspirasi.


Di Surabaya walaupun ada macet, tapi percaya deh nggak ada macet di kota manapun di Indonesia yang separah di Jakarta. Di Surabaya dalam sehari masih bisa pergi ke tiga tempat atau lebih tanpa harus berangkat 1,5-2 jam lebih awal. Tingkat stress pengemudi di Surabaya yang pasti nggak setinggi di Jakarta... Dan hal baiknya lagi, waktu, uang, tenaga nggak habis di jalanan!

Selain itu ya walaupun belum di semua wilayah, tapi senang rasanya bisa memandangi pohon dan bunga yang tertanam dan terawat membingkai jalanan Surabaya. Kondisi jalanan/lalu lintas di Surabaya juga lebih tertata dan taman-taman umum dibuat lebih layak kunjung. Saya bisa bicara seperti ini mungkin karena memang saya 'pendatang' baru ya (walaupun sebenarnya dulu juga saya pernah tinggal di Surabaya sampai tahun 2004), tapi hal-hal tersebut adalah hal yang patut dibanggakan dari kota ini. Sungguh usaha dan racikan Bu Risma sebagai Wali Kota Surabaya ini perlu diapresiasi. 

Hal-hal itu mungkin tergolong sepele buat sebagian orang, tapi justru hal 'sepele' itu bikin saya merasa nyaman tinggal di Kota Pahlawan ini, apalagi untuk memulai sebuah keluarga, buat saya Surabaya kota yang proper.


Dan hal terakhir yang bisa saya ingat saat ini adalah, di bulan kedelapan ini adalah melati dan kamboja. Melati dan kamboja adalah dua dari beberapa bunga kesukaan saya, dua bunga ini pada dasarnya adalah bunga yang memiliki bau harum dan menurut saya mereka bentuknya sederhana, garis kelopaknya tegas tapi secara keseluruhan adalah bunga yang lembut. Di bulan kedelapan ini yang membuat saya senang adalah tanaman bunga melati dan kamboja yang saya tanam mulai tumbuh.

Selama ini saya nggak pernah memetik bunga langsung dari pohonnya karena sayang rasanya. Jadi yang saya lakukan adalah saya ambil bunga bunga yang sudah berjatuhan dan taruh di atas mangkuk berisi air. Mereka bisa bertahan lebih lama beberapa hari dibandingkan kalau sudah jatuh, dibersihkan atau disapu begitu saja :) Uniknya lagi, ketika saya mengirim foto bunga kamboja di atas ke Ibu saya, Ibu saya bilang bahwa adalah satu bunga yang berkelopak empat. Lucu ya.. Padahal biasanya kelopak bunga kamboja itu berjumlah lima.

Jadi di bulan kedelapan setelah saya memulai 'hidup baru' ini pasti ada kurang dan lebihnya dan saya berusaha dan belajar untuk bersyukur menikmati lebihnya daripada merasakan kurangnya. Saya jadi nggak sabar, excited dan yang pasti nervous akan rekapan cerita hidup saya di bulan selanjutnya, karena inshaAllah di bulan depan saya akan melahirkan anak pertama kami dan sejak itulah.. Saya akan terlahir kembali menjadi manusia baru; sebagai Ibu dan sebagai orang tua. Terima kasih sudah membaca! Sampai bertemu di cerita di bulan-bulan selanjutnya!

Wednesday, July 20, 2016

Writing: Mine

Mine to argue with,
Mine to admonish,
Mine to annoy,

Mine to encourage,
Mine to accept,
Mine to love,

As selfish as it sounds,
As fair as it turns out to be,

You are mine,
Mine to all the bad things,
Mine to all the goods,

9.05AM
Surabaya, 20 Juli 2016
Hastuti Viana P. (Asti Viana)

Friday, April 8, 2016

Pan


Sayang.
Sayang sejak di Magelang.
Sayang saat di Surabaya. 
Sayang di setiap kota dan negara yang ia kunjungi.
Sayang saat harus menunggu satu minggu, satu bulan, bahkan tiga bulan tanpa ada kabar darinya.
Sayang saat harus menunggu satu bulan, tiga bulan, bahkan sepuluh bulan untuk bisa bertemu langsung dengannya.
Sayang saat menerima selembar surat yang ia tulis.
Sayang saat menerima puluhan lembar surat yang ia tulis.
Sayang di setiap pertengkaran.
Sayang di setiap senyuman lega.
Sayang di setiap kekecewaan bahwa Tuhan sedang menunda mimpi kita.
Sayang di setiap terkabulnya doa kita.
Sayang sejak tahun 2009.

Terima kasih untuk selalu membangunkan rasa semangat dan optimisme untukku.
Tidak perlu orang tahu apa yang sudah kita lalui, cukup semuanya kita jadikan pengingat bahwa semua hal baik akan datang pada akhirnya :)
Terima kasih Pandu Indramanto.

Wednesday, April 6, 2016

Thoughts: Just A Thought

Selama ini ada banyak sekali hal yang sebetulnya ingin saya tuangkan melalui tulisan, tapi tidak lama saya selalu bertanya kepada diri sendiri 'tulisannya bakalan menarik nggak ya?', 'mudah dibaca orang nggak ya?', 'kalau orang nggak suka dengan tulisan yang ini gimana?' dan sederet pertanyaan sejenisnya yang membuat saya terhenti menulis. Saya merasa bahwa sebenarnya yang sudah menghambat diri saya dalam menulis sampai sejauh ini adalah diri saya sendiri. Perasaan tidak yakin dan malas seringkali saya manjakan sampai-sampai saya justru tidak menghasilkan apa-apa. Bohong rasanya kalau saya bilang saya tidak punya cukup waktu untuk menulis dan padahal blog ini kan ruang kebebasan saya ya..

Saya salut sekali sama orang orang yang bisa melakukan suatu hal secara konsisten dan percaya diri di mana dalam hal ini adalah menulis. Pingin rasanya bisa seperti mereka, tapi ternyata hal itu tidak mudah buat saya hahaha. Sebetulnya saya tidak punya motivasi khusus saat membuat blog ini selain saya ingin menulis, menulis dan menulis. Mungkin ada beberapa hal yang harus saya tanamkan dari diri saya sendiri

No Pressure, No Deadline, Nothing..
Saya tidak punya 'tanggungan' apapun dalam menulis karena menulis di blog ini sifatnya bebas. Bebas berarti tidak ada tema khusus yang harus saya tulis, bebas menulis dengan gaya menulis saya sendiri dan yang pasti bebas dari deadline.

Write Like No One Is Reading 
Walaupun blog ini bersifat publik dan tidak menutup kemungkinan tulisan saya akan dibaca orang, saya akan menulis selayaknya tidak akan ada yang membaca ataupun 'menilai' tulisan saya supaya saya tidak takut dan malu akan konten yang saya buat. Toh setidaknya saya berusaha supaya tulisan yang buat tidak menyinggung dan merugikan orang lain.

Inspire Myself
Saya bersyukur bahwa sebetulnya banyak hal yang dapat membuat saya terinspirasi, semangat dan bahagia. Hal itu bisa sesederhana bangun pagi, merawat diri saya, mengunyah makanan enak, ataupun mendengarkan musik. Melalui hal-hal tersebut saya akan mencoba untuk lebih bisa 'merasa' dan kemudian menuangkannya kembali kedalam bentuk tulisan. Yang pasti, saya ingin tulisan saya adalah refleksi tulus dari sebuah hal yang saya rasakan dan tidak terkesan memaksakan.