DELAPAN.
Waktu
telah berlalu dan bulan Juli ini tertanda sebagai bulan ke delapan saya: telah
menikah, tinggal di Surabaya dan mengandung calon anak pertama saya. Ya,
alhamdulillah saya dan suami dianggap mampu oleh Tuhan untuk menjadi orang tua,
saya hamil di saat usia pernikahan kami baru satu bulan.
Alhamdulillah.
Waktu jelas berlalu. Saya nggak mau bilang 'berlalu begitu cepat' karena jujur saja pasti ada hari-hari di mana waktu berjalan begitu lambat dan membosankan. Di bulan kedelapan ini saya sudah mencicipi terik/panasnya kota Surabaya, yang di mana saya rasa nggak akan pernah bisa saya nikmati sampai kapanpun. Juga setelah menikah dan tinggal di rumah sendiri bikin saya sudah melakukan hal yang sebelumnya nggak saya lakukan saat masih tinggal bersama orang tua. Mau nggak mau saya dan hanya saya yang in charge untuk membayar tagihan listrik, air, tv kabel/internet, PBB dan mengurus urusan yang lain dan lain lain hahaha. Tapi kalau nggak gitu kan saya nggak akan pernah belajar dan nggak akan pernah memahami bahwa apa yang dilakukan oleh Ibu saya selama ini dalam mengurus rumah itu ternyata nggak pantas untuk disepelekan.
Oh ya, di samping itu untuk urusan kuliner di Surabaya memang nggak perlu diragukan lagi. Tapi dengan berat hati saya harus bilang kalau saya seringkali pingin pergi ke Jakarta cuma buat makan di restoran yang cuma adalah di Jakarta dan yang rasanya 'kok lebih enak yang di Jakarta' ya..
Hmm.. Terus di Jakarta saya terbiasa dengan kondisi rumah yang ramai dan banyak orang, tapi setelah pindah saya harus beradaptasi dengan situasi perumahan yang tenang (bahkan mungkin terlalu tenang) dan sepi. Apalagi kalau suami sedang jadwal dinas jaga, saya tambah harus beradaptasi lagi dengan sepinya rumah. Tapi entah kenapa dan alhamdulillah saya nggak pernah merasa kesepian, sedih ataupun 'kosong', saya bawa happy aja.
Terlepas itu semua, di bulan kedelapan ini setidaknya saya merasakan kebalikan dari teriknya Surabaya, yaitu basah dan mendungnya kota Surabaya. Beberapa waktu terakhir hujan turun lumayan deras di daerah rumah saya dan hal itu paling nggak untuk saya membuat Surabaya akhirnya terasa nyaman, membuat rumah saya menjadi jauh lebih homy dan somehow bikin saya semakin semangat dan terinspirasi.
Di Surabaya walaupun ada macet, tapi percaya deh nggak ada macet di kota manapun di Indonesia yang separah di Jakarta. Di Surabaya dalam sehari masih bisa pergi ke tiga tempat atau lebih tanpa harus berangkat 1,5-2 jam lebih awal. Tingkat stress pengemudi di Surabaya yang pasti nggak setinggi di Jakarta... Dan hal baiknya lagi, waktu, uang, tenaga nggak habis di jalanan!
Selain itu ya walaupun belum di semua wilayah, tapi senang rasanya bisa memandangi pohon dan bunga yang tertanam dan terawat membingkai jalanan Surabaya. Kondisi jalanan/lalu lintas di Surabaya juga lebih tertata dan taman-taman umum dibuat lebih layak kunjung. Saya bisa bicara seperti ini mungkin karena memang saya 'pendatang' baru ya (walaupun sebenarnya dulu juga saya pernah tinggal di Surabaya sampai tahun 2004), tapi hal-hal tersebut adalah hal yang patut dibanggakan dari kota ini. Sungguh usaha dan racikan Bu Risma sebagai Wali Kota Surabaya ini perlu diapresiasi.
Hal-hal itu mungkin tergolong sepele buat sebagian orang, tapi justru hal 'sepele' itu bikin saya merasa nyaman tinggal di Kota Pahlawan ini, apalagi untuk memulai sebuah keluarga, buat saya Surabaya kota yang proper.
Dan hal terakhir yang bisa saya ingat saat ini adalah, di bulan kedelapan ini adalah melati dan kamboja. Melati dan kamboja adalah dua dari beberapa bunga kesukaan saya, dua bunga ini pada dasarnya adalah bunga yang memiliki bau harum dan menurut saya mereka bentuknya sederhana, garis kelopaknya tegas tapi secara keseluruhan adalah bunga yang lembut. Di bulan kedelapan ini yang membuat saya senang adalah tanaman bunga melati dan kamboja yang saya tanam mulai tumbuh.
Selama ini saya nggak pernah memetik bunga langsung dari pohonnya karena sayang rasanya. Jadi yang saya lakukan adalah saya ambil bunga bunga yang sudah berjatuhan dan taruh di atas mangkuk berisi air. Mereka bisa bertahan lebih lama beberapa hari dibandingkan kalau sudah jatuh, dibersihkan atau disapu begitu saja :) Uniknya lagi, ketika saya mengirim foto bunga kamboja di atas ke Ibu saya, Ibu saya bilang bahwa adalah satu bunga yang berkelopak empat. Lucu ya.. Padahal biasanya kelopak bunga kamboja itu berjumlah lima.
Jadi di bulan kedelapan setelah saya memulai 'hidup baru' ini pasti ada kurang dan lebihnya dan saya berusaha dan belajar untuk bersyukur menikmati lebihnya daripada merasakan kurangnya. Saya jadi nggak sabar, excited dan yang pasti nervous akan rekapan cerita hidup saya di bulan selanjutnya, karena inshaAllah di bulan depan saya akan melahirkan anak pertama kami dan sejak itulah.. Saya akan terlahir kembali menjadi manusia baru; sebagai Ibu dan sebagai orang tua. Terima kasih sudah membaca! Sampai bertemu di cerita di bulan-bulan selanjutnya!
