Thursday, June 26, 2025

Thoughts: We Are Bound To Fluctuate, Nothing is Ever Linear


We said goodbye to our 10 years old mango tree, sadly no matter what we did it didn’t thrive, it was difficult and took almost two years to finally convinced myself to cut it down, it was time to let go. I tried something that 15-20 years old me would say “It’s not my thing, I wouldn’t do it”, I tried basic stitching, planted a morning glory and spinach that was given by one of my dear friends and stretched my luck by trying to grow zinnia dahlia and forget me not flowers. It’s a process and who knows what’s next, maybe the plants would thrive maybe they wouldn’t, who knows, who cares?. 

Maybe still not your thing, Asti, but you did try. 

I also said yes to a new member in our household, a cat, we named him Hiro. I brisk walked, jogged around the neighbourhood before the sun rises way too high, it reminded me so much of my grandfather from my mother’s side. When I had a sleepover at his place I remembered following him around walking daily before sunrise and realised how much my husband reflected the similar routine like he had. And now I got it why they prefer to do it before the sun rises. The air was much clearer, there weren't much noises just yet, if you got lucky there will be a gentle breeze that you deserve, you somehow got to witness the world slowly starting.

We’re bound to fluctuate, one day we thought we know ourselves already and so well but the very next day out of the blue another version of us unfold, wanted to be noticed, to be taken care of, to be embraced. One day at a time, we aren’t linear nor our progress and that’s normal. 

All that I am, I accept, I let it flow. One day at a time.


Thursday, July 14, 2022

Short Story: Amaya dan Bulan by Asti Viana

Pada suatu malam berbintang yang sejuk, Amaya gadis kecil bersiap untuk tidur. Sambil memandangi langit dan bulan penuh yang begitu terang melalui jendela kamarnya yang masih terbuka, ia bertanya kepada dirinya sendiri “Aku penasaran, aku bisa melihat bulan dari jendela kamarku. Apakah bulan itu bisa melihatku dari atas langit? Dia sendiri di sana, apakah dia kesepian dan merasa langit malam terlalu gelap untuknya?”

 

Hanyut dalam pikirannya sendiri, seketika angin berhembus sedikit lebih kencang. Bulan yang semula terlihat jauh di langit tiba-tiba datang menghampirinya dari pinggir jendela. Anehnya, bulan itu bisa tersenyum dan berbicara padanya “Hai Amaya, aku bulan. Kamu tahu, aku benar-benar bisa melihatmu dari jauh”.

 

Amaya terkejut dan sedikit bingungdia yang semula terbaring di atas tempat tidur di samping jendela kemudian berpindah mendekati pinggiran jendela, dia dapat merasakan angin menjadi sedikit lebih kencang karena kedatangan bulan. Dia mengosok-gosok matanya beberapa kali meyakinkan dirinya apakah ini benar-benar sedang terjadi. Ya, ini benar-benar sedang terjadi! Sang bulan sedang berada di luar jendela kamarnya, berbicara dengannya dan menjawab pertanyaannya?

 

Ini sungguh luar biasa! Pikir Amaya dalam hati. Kemudian Amaya memberanikan diri untuk mengajak bulan berbicara. “Kkkamu benar bisa melihatku dari kejauhan! Kamu bahkan bisa menghampiriku. Sungguh hebat!”

 

Bulan tersenyum dan membalas “Tentu saja, cukup keren bukan? Dan jika aku mau, aku pun bisa mendengar apa yang kamu pikirkan. Tetapi kamu tahu apa yang lebih luar biasa? Karena keahlianku tidak hanya itu..”

 

Kebingungan Amaya perlahan berkurang dan tergantikan oleh rasa penasaran “Memangnya apa lagi keahlianmu? Apa kamu akan memberitahuku?”

 

“Aku tidak akan memberitahumu, namun aku akan memperlihatkannya langsung kepadamu. Ikuti kata-kataku. Berhati-hatilah, keluar dari jendela kamarmu dan pegang tanganku”

 

Amaya memberanikan diri, perlahan dia raih tangan bulan dan keluar dari jendela kamarnya. Amaya terkejut saat melihat sekeliling semua terasa ringan, dirinya sedikit merasa bergoyang karena tertiup angin. Hingga akhirnya dia tersadar kalau kakinya tidak menapak apapun. Dia sedang melayang, dia bisa terbang tanpa sayap. 

 

Oh tidak, ini sedikit menakutkan. Pikirnya sambil berusaha menggerakan tangan dan kakinya untuk memastikan apakah dia benar-benar sedang melayang. Apakah aku akan jatuh?

 

“Tenang saja, kamu tidak akan jatuh. Kamu aman bersamaku, kamu hanya perlu percaya dengan pikiranmu sendiri dan denganku tentunya. Aku akan mengajakmu berkeliling sedikit” Ujar bulan memastikan.

 

“Wow. Aku bahkan tidak tahu kita bisa terbang tanpa sayap. Ini sungguh menyenangkan…. Hmm… Sedikit mengerikan, tetapi juga menyenangkan”. Tidak butuh waktu lama kini Amaya lebih yakin bahwa dia tidak akan jatuh. 

 

Amaya dan bulan bergandengan tangan di udara, mereka tidak banyak berbicara saat terbang, seakan bulan membiarkan Amaya untuk menikmati perjalanannya. Keduanya hanya menikmati suasana malam ini di udara. Mereka terbang melewati banyak rumah-rumah. Sebagian rumah masih menyala lampunya dan ada juga yang sudah gelap gulita. Ada rumah yang jendelanya sudah tertutup, namun ada juga yang masih terbuka.

 

Dengan perlahan Amaya dan bulan terbang menyusuri perumahan. Amaya mulai bisa melihat aktivitas orang lain dari luar rumah. 

 

Di rumah pertama, ada empat orang anggota keluarga yang terlihat sedang berbincang di meja makan sambil main kartu, di rumah kedua ada seorang pria tua berkaca mata tebal sedang menonton televisi di ruang keluarga, kemudian ada wanita paruh baya mengenakan gaun tidur berwarna biru laut yang sedang membaca buku dengan cahaya redup, di halaman perumahan dia lihat ada wanita yang baru saja memarkir mobilnya di halaman depan rumah dan bersiap masuk rumah. Kemudian ada anak-anak kecil yang masih berlarian di dalam rumah, ada rumah yang sedang memasang lagu-lagu oldies dengan volume sedikit kencang, ada samar-samar suara tawa dari acara televisi di salah satu rumah, ada yang sedang bermain alat musik piano, Amaya juga bisa mendengar tangisan bayi dari dalam rumah orang lain.

 

Dari satu rumah, ke rumah lainnya. Beragam aktivitas di dalam rumah yang bisa dia lihat sekilas dari kejauhan dan beragam suara pula yang samar-samar terdengar. Sesaat setelah melewati atas rumah-rumah orang lain, bulan mulai memperlambat kecepatan terbangnya dan mengajak Amaya menghabiskan waktunya untuk menikmati angin yang sejuk di malam ini. 

 

Kemudian bulan berkata “Orang menganggap bahwa malam itu gelap dan sunyi. Tetapi menurutku itu tidak sepenuhnya benar. Seperti yang kamu lihat masih ada beberapa cahaya yang menyala dan masih ada beberapa hal yang bersuara. Dan untuk menjawab pertanyaanmu, aku tidak sendiri di langit karena ada ribuan bahkan jutaan bintang lainnya bersamaku, di malam hari aku pun juga tidak pernah kesepian karena aku bisa terbang sedikit rendah kapanpun akum au untuk mendengar banyak suara dan melihat cahaya berkilauan dari lampu kota kalian.”

 

Amaya mengangguk memahami ucapan bulan dan mulai menguap. Bulan hanya tertawa kecil menyadari mungkin perjalanan ini membuat Amaya mengantuk. Waktu terasa begitu singkat, akhirnya bulan memutuskan untuk terbang kembali ke depan jendela kamar Amaya. Bulan antarkan dengan hati-hati “Masuk, kembalilah ke tempat tidur dan selimutmu yang hangat, angin malam ini sudah lebih kencang dan sesaat lagi aku akan bergantian dengan matahari untuk menyinari kotamu. Tidurlah yang nyenyak. Selamat malam Amaya”. 

Amaya pun menuruti kata Bulan, ia masuk ke kamar melalui jendela, naik ke tempat tidur dan menyelimuti dirinya dengan selimut yang hangat. 

 

Setelah Amaya berbaring di tempat tidurnya, ia berkata “Ini sungguh pengalaman baru yang menyenangkan. Semoga aku bisa bertemu lagi denganmu. Terima kasih banyak bulan”. Bulan tidak menjawab apapun, hanya tersenyum dan mulai terbang perlahan meninggalkan jendela kamar Amaya untuk terbang kembali ke langit. Bulan yang tadinya tampak besar dan dekat di mata Amaya, kini kian mengecil dan semakin jauh. Amaya pun tidak sanggup lagi menahan kantuk, dia mulai menutup matanya dan tertidur lelap.

Saturday, May 30, 2020

Thoughts: Cerita Setelah Sekian Lama

Hari-hari sudah kembali seperti 'biasa', bulan Ramadhan dan lebaran tahun ini usai. Dengan adanya pandemi saat ini banyak hal terasa terbatas, banyak rencana yang tadinya saya ingin laksanakan di tahun ini namun tertunda begitu saja. Salah satunya adalah sesederhana merayakan Idul Fitri di Jakarta, membawa Aluna dan Amala bertemu keluarga besarnya di Jakarta, mengenalkan Amala kepada buyutnya, dan juga saya mau 'santai' sejenak di rumah orang tua, mau nggak mikir harus ini itu di rumah sendiri haha! Tapi karena ada himbauan untuk tidak mudik pun akhirnya keluarga kecil kami pun mematuhinya.

Dua tahun tidak sungkeman dengan kedua orang tua saya, sudah hampir delapan bulan juga saya tidak pulang ke rumah orang tua. Rasanya gimana gitu.. Awalnya saya sedikit kecewa, rindu karena merasa 'jauh' dari keluarga, ingin melewati bulan puasa dan lebaran di Jakarta. Tapi ternyata merasakan dan meratapi perasaan sedih atau kecewa lebih melelahkan ya dibanding harus melewati hari-hari selama pandemi itu sendiri hahaha. Memiliki emosi dan respon terhadap suatu hal yang tidak menyenangkan itu wajar, tapi saya merasa apa yang saya punya di Surabaya pun sudah lebih dari cukup, tidak pantas rasanya mengeluh karena banyak orang di luar sana ada yang sedang melewati hal lebih berat, lebih tidak mudah dan memiliki tidak lebih dari apa yang saya miliki. Akhirnya saya memutuskan agar mencoba melewati hari demi hari dengan happy-happy aja, tidak berekspektasi lebih, namun justru di sana saya semakin lama menemukan titik di mana saya merasa tenang.

Dimulai dari walaupun posisi saya di Surabaya, tetapi bersyukur sekali karena di sini pun saya masih bisa merasakan kebaikan dan kehangatan. Tiada hentinya saat bulan Ramadhan kemarin masih banyak yang menanyakan kabar keluarga kecil kami. Banyak teman maupun keluarga yang berbaik hati menyempatkan kirim makanan untuk kami juga, bahkan kami juga masih sempat dikirimi makanan oleh mereka yang tinggal di luar kota. Seketika saya merasa tidak berjarak, saya merasa lebih dari cukup dan merasa hangat :) Mungkin bagi sebagian dari mereka menanyakan kabar ataupun mengirim makanan adalah hal yang biasa saja, bukan sesuatu yang besar. Tapi rupanya bagi penerima, hal tersebut adalah hal yang besar. Saya merasa diingat, istimewa rasanya. Saya pun tersadar bahwa tidak ada kebaikan yang sia-sia dan terlalu kecil untuk dibagikan kepada sesama.

Saat Hari Raya Idul Fitri pun tiba dan entah mengapa lebaran kemarin justru terasa ringan. Setidaknya untuk saya. Mungkin karena pada akhirnya saya tidak ada keharusan untuk mengatur waktu dan juga energi. Membayangkan saya harus pesan tiket pulang pergi Surabaya - Jakarta - Surabaya lagi untuk kami sekeluarga, packing, unpacking, bangun pagi untuk siap-siapin semua perintilan Aluna dan Amala (Dan juga diri sendiri.. Oh no! Hahaha), belum lagi kalau harus kunjung-kunjung rumah relatif. Namun realitanya, semua itu tidak terlaksana, karena keluarga kecil kami tidak perlu ke Jakarta, shalat Id pun dikerjakan di rumah masing-masing, mengurus Aluna dan Amala pun berjalan seperti biasanya saja, tidak ada mama Asti yang harus ngomong 'Ayo dooong, nanti telat' 'Ayoo doong' hahaha. Saya pun seakan merasakan kemenangan kecil karena tidak harus berlomba-lomba dengan waktu, setidaknya kalaupun saya berlomba dengan waktu, saya bisa unggul sedikit, karena tidak ada yang perlu diburu pada hari itu. Di hari itu saya kembali ke awal untuk belajar memaknai dan merayakan 'To just be'.

Monday, March 11, 2019

Good Thoughts: 30 Days Writing Challenge

Selamat pagi :)
Seringkali saya tidak menulis ide untuk menulis padahal rasa ingin menulis besar sekali. Karena ketidaktahuan untuk menulis apa kemudian saya berujung nggak menulis apapun dan terbengkalailah blog ini selama berbulan-bulan hahaha maaf ya...

Tetapi beberapa waktu lalu saat membuka pinterest, saya iseng browsing berbagai macam ide menulis di blog dan saya menemukan ini 30 Days Writing Challenge - yaitu challenge untuk menulis selama tiga puluh hari lengkap dengan topiknya. Saya rasa ini ide bagus untuk saya yang tidak konsisten atau seringkali buntu mau menulis apa, tapi dengan adanya timeline seperti ini rasanya akan memudahkan saya untuk menulis kembali perlahan.



Semoga saya bisa rajin menulis selama tiga puluh hari berturut turut sesuai dengan challenge ini yaah hehehe. Semoga siapapun yang ingin mengikuti challenge ini boleh sekali lho, kan jadi seru ya kalau bisa barengan menulis dan membaca tulisan satu sama lain.
So see you guys on my first post of '30 Days Writing Challenge'!

Love,
Asti Viana

Friday, July 6, 2018

Good Things: Senja di Surabaya

Kemarin sore kami bertiga mengunjungi rumah eyangtinya suami saya yang terletak di pusat kota Surabaya, kami memanggilnya Eyang Uti. Biasanya kalau ke rumah eyang uti Aluna selalu excited karena kebetulan sepupunya juga tinggal bersama eyang uti, jadi Aluna bisa bermain bersama mereka. Namun karena kemarin sepupunya Aluna sedang tidak di rumah jadi mungkin Aluna merasa bosan ya. Akhirnya papanya Aluna memutuskan untuk mengajak Aluna ke area sekitar balai kota Surabaya dengan berjalan kaki karena jaraknya yang sangat dekat.
 

Di depan gerbang balai kota Surabaya terdapat air mancur yang asalnya bukan dari kolam, melainkan dari lubang di lantai luar balai kota. Sesekali air mancurnya disemburkan dari lantai tersebut. Biasanya kalau pagi terutama di hari libur banyak sekali anak-anak yang bermain air basah-basahan, namun karena kemarin adalah hari kerja dan matahari sudah mau tenggelam jadi hanya ada kami bertiga serta dua anak laki laki dan dua orang dewasa yang mendampingi di sekitar situ.

Walaupun saat itu kami kesana bukan untuk main air melainkan hanya sekedar keliling keliling saja namun Aluna excited sekali, Aluna memang menyukai air dan begitu airnya tersembur dari dalam lantai Aluna langsung berbicara "Aiy manyur mama!" (Air mancur mama!) sambil berteriak kegirangan! Aluna berlari kesana kemari menunggu air mancurnya tersembur keluar lagi.


Sore itu adalah jam pulang kantor dan jalanan pun tampak ramai dengan banyaknya kendaraan berlalu lalang. Namun ramainya lalu lintas di sekitaran balai kota seakan membisu dan turut serta menjadi saksi indahnya sore itu untukku.

Proses matahari terbenam, warna langit jingga yang indah, udara sore kota Surabaya yang sejuk, ditambah dengan kegembiraan Aluna melihat air mancur. Jarang saya bisa menyaksikan hal tersebut karena biasanya saya banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan. Terutama di waktu waktu seperti ini. 

Damai sekali rasanya. Senja di Surabaya yang sederhana namun istimewa untukku.


Friday, June 29, 2018

Thoughts: Keluarga


Setiap keluarga memiliki kisah. Namun bagiku tidak hanya tugas seorang ibu, istri atau wanita, saya berharap setiap anggota keluarga bisa menjadi penopang, penguat dan penyemangat satu sama lain. Karena jika satu jiwa dan raga salah seorang jatuh maka tugas jiwa dan raga lainnya lah yang bisa menjadi penopang, penguat dan penyemangat supaya jiwa dan raga keluarga itu tetap hidup. Kasihilah orang orang mu, sekalipun mereka berasal dari garis luar namun telah kamu anggap sebagai keluarga. 

Lebih dan kurangnya diriku, teman hidupku dan putriku... Keluarga kecilku adalah pilihanku, hadiah terindahku dan mereka lah yang terbaik untukku. Melalui keluarga kecil inilah aku belajar dan merasa penuh.

Selamat hari keluarga nasional dari keluarga kecil kami yang tidak selalu lengkap, tidak selalu tenang, namun adalah akar terkuat untuk memulai dan rumah ternyaman untuk kembali.

Monday, January 15, 2018

Thoughts: Pengantar Minggu, Rumah dan Aluna

Selama ini saya takut kalau saya nggak mampu mengurus hal hal domestik rumah tangga tanpa bantuan suami ataupun asisten rumah tangga. Takut keteteran, rumah hancur lebur berantakan seperti habis terkena halilintar (lebay...). Apalagi jika hal tersebut kejadian kalau di saat saya lagi nggak fit dan Aluna sedang aktif-aktifnya. Akhirnya... Ketakutan saya pun terjadi juga! Banyak yang menyarankan kalau sudah begini kondisinya, kebersihan rumah 'ntar aja' yang penting anak tetap diurusin. Saya setuju kok, anak itu tetap prioritas nomor satu ada atau tidak ada asisten rumah tangga. Tapi... Pada dasarnya saya orang yang suka bersih-bersih dan nggak suka sesuatu yang berantakan apalagi jorok, jadi mau ada nggak ada asisten rumah tangga buat saya rumah harus tetap bersih dan presentable. Walaupun begitu, saya juga tetap membatasi diri kok dalam membersihkan rumah saya ga serigid sebelumnya, kalau lagi memang capek atau males ya saya biarin aja berantakan, tapi ya pada akhirnya saya akan tetap bersihkan lagi.

Jadilah akhir-akhir ini saya kerja bakti dan sedikit kecapekan. Tapi seakan Aluna memahami kalau kondisi saya sedang kewalahan. Di saat saya cuci piring, bersih-bersih ruangan, Aluna anteng. Entah dia menonton televisi, utak atik buku (iya, utak atik soalnya Aluna belum bisa baca! :p), sesekali saya kasi youtube, atau dia asyik dengan mainannya. Yaaaa, sesekali Aluna rewel sedikit dan saya terhenti melakukan aktivitas untuk ngomong 'Noooo', 'Tidak boleh!', 'Aluna mau ngapain ya itu? Bahaya lho..' kalau Aluna sudah mulai melakukan hal-hal yang berbahaya dan mencurigakan hahahaha... Yang membuat gemes sih kadang di saat saya melipat baju atau ngelap barang, Aluna jadi ikut-ikutan 'membantu' atau pura pura melakukan aktivitas yang sama, walaupun kadang kadang dia berinisiatif membantu 'ngepel' dengan baju bersihnya :D (Tapi paling tidak I've my own little helper...)

Udah gitu hal yang membuat saya kaget lagi, Aluna makannya semakin pandai. Emang sih Aluna bukan tipe anak yang selalu mau makan apalagi sampai habis, tapi akhir-akhir ini Aluna makannya lahap dan mau makan sendiri dengan anteng di high chairnya.. Beberapa pekerjaan saya berkurang: memaksa dan menyuapi Aluna!

Sebetulnya tadinya saya nggak kepikiran untuk posting apapun di blog, tapi tadi sewaktu saya lagi beres-beres bajunya Aluna dan dia lagi khusyuk makan nasi pakai telur orak arik saya menyadari kalau:
1. Sedikit demi sedikit semua bisa dihandle juga. Paling paling jadwal mandi kita berdua mundur jadi agak siangan dan semakin aktif pesan makanan lewat gofood.... Haha atau menggunakan jasa catering..
2. Aluna semakin kooperatif dan mengerti. Dia bisa diminta tolong, entah membuang sampah pada tempatnya, membersihkan kembali mainannya yang tadinya diberantakin atau makan di kursinya sendiri. Terima kasih banyak ya Aluna sudah membantu mama :)
3. Betapa hebatnya wanita di sana yang bisa juggling antara keluarga, karir dan urusan domestik rumah tangga apalagi tanpa bantuan dari siapapun. Sungguh bukan pekerjaan yang mudah. Saya merasa apa yang saya lewati bukan apa-apa dan belajar untuk semakin mensyukuri, bahwa yang saya punya sekarang; tempat tinggal untuk dihuni, kondisi badan yang kalaupun sakit masih bisa diatasi dengan istirahat dan minum obat, anak yang kooperatif dan suami yang sangat sangat memahami, membantu juga tidak menuntut. Ya, saya merasa bahwa apa yang saya miliki dan lewati sekarang sudah lebih cukup.

Hmm sepertinya itu dulu saja ya tulisan saya kali ini, Aluna sudah mulai nangis, gelendotan, nangis mau nyusu dan mamanya harus bersihkan karpet karena abis disiram yakult sama Aluna! Semoga hari senin kita menyenangkan :) Thanks for reading!