Hari-hari sudah kembali seperti 'biasa', bulan Ramadhan dan lebaran tahun ini usai. Dengan adanya pandemi saat ini banyak hal terasa terbatas, banyak rencana yang tadinya saya ingin laksanakan di tahun ini namun tertunda begitu saja. Salah satunya adalah sesederhana merayakan Idul Fitri di Jakarta, membawa Aluna dan Amala bertemu keluarga besarnya di Jakarta, mengenalkan Amala kepada buyutnya, dan juga saya mau 'santai' sejenak di rumah orang tua, mau nggak mikir harus ini itu di rumah sendiri haha! Tapi karena ada himbauan untuk tidak mudik pun akhirnya keluarga kecil kami pun mematuhinya.
Dua tahun tidak sungkeman dengan kedua orang tua saya, sudah hampir delapan bulan juga saya tidak pulang ke rumah orang tua. Rasanya gimana gitu.. Awalnya saya sedikit kecewa, rindu karena merasa 'jauh' dari keluarga, ingin melewati bulan puasa dan lebaran di Jakarta. Tapi ternyata merasakan dan meratapi perasaan sedih atau kecewa lebih melelahkan ya dibanding harus melewati hari-hari selama pandemi itu sendiri hahaha. Memiliki emosi dan respon terhadap suatu hal yang tidak menyenangkan itu wajar, tapi saya merasa apa yang saya punya di Surabaya pun sudah lebih dari cukup, tidak pantas rasanya mengeluh karena banyak orang di luar sana ada yang sedang melewati hal lebih berat, lebih tidak mudah dan memiliki tidak lebih dari apa yang saya miliki. Akhirnya saya memutuskan agar mencoba melewati hari demi hari dengan happy-happy aja, tidak berekspektasi lebih, namun justru di sana saya semakin lama menemukan titik di mana saya merasa tenang.
Dimulai dari walaupun posisi saya di Surabaya, tetapi bersyukur sekali karena di sini pun saya masih bisa merasakan kebaikan dan kehangatan. Tiada hentinya saat bulan Ramadhan kemarin masih banyak yang menanyakan kabar keluarga kecil kami. Banyak teman maupun keluarga yang berbaik hati menyempatkan kirim makanan untuk kami juga, bahkan kami juga masih sempat dikirimi makanan oleh mereka yang tinggal di luar kota. Seketika saya merasa tidak berjarak, saya merasa lebih dari cukup dan merasa hangat :) Mungkin bagi sebagian dari mereka menanyakan kabar ataupun mengirim makanan adalah hal yang biasa saja, bukan sesuatu yang besar. Tapi rupanya bagi penerima, hal tersebut adalah hal yang besar. Saya merasa diingat, istimewa rasanya. Saya pun tersadar bahwa tidak ada kebaikan yang sia-sia dan terlalu kecil untuk dibagikan kepada sesama.
Saat Hari Raya Idul Fitri pun tiba dan entah mengapa lebaran kemarin justru terasa ringan. Setidaknya untuk saya. Mungkin karena pada akhirnya saya tidak ada keharusan untuk mengatur waktu dan juga energi. Membayangkan saya harus pesan tiket pulang pergi Surabaya - Jakarta - Surabaya lagi untuk kami sekeluarga, packing, unpacking, bangun pagi untuk siap-siapin semua perintilan Aluna dan Amala (Dan juga diri sendiri.. Oh no! Hahaha), belum lagi kalau harus kunjung-kunjung rumah relatif. Namun realitanya, semua itu tidak terlaksana, karena keluarga kecil kami tidak perlu ke Jakarta, shalat Id pun dikerjakan di rumah masing-masing, mengurus Aluna dan Amala pun berjalan seperti biasanya saja, tidak ada mama Asti yang harus ngomong 'Ayo dooong, nanti telat' 'Ayoo doong' hahaha. Saya pun seakan merasakan kemenangan kecil karena tidak harus berlomba-lomba dengan waktu, setidaknya kalaupun saya berlomba dengan waktu, saya bisa unggul sedikit, karena tidak ada yang perlu diburu pada hari itu. Di hari itu saya kembali ke awal untuk belajar memaknai dan merayakan 'To just be'.