Hanyut dalam pikirannya sendiri, seketika angin berhembus sedikit lebih kencang. Bulan yang semula terlihat jauh di langit tiba-tiba datang menghampirinya dari pinggir jendela. Anehnya, bulan itu bisa tersenyum dan berbicara padanya “Hai Amaya, aku bulan. Kamu tahu, aku benar-benar bisa melihatmu dari jauh”.
Amaya terkejut dan sedikit bingung, dia yang semula terbaring di atas tempat tidur di samping jendela kemudian berpindah mendekati pinggiran jendela, dia dapat merasakan angin menjadi sedikit lebih kencang karena kedatangan bulan. Dia mengosok-gosok matanya beberapa kali meyakinkan dirinya apakah ini benar-benar sedang terjadi. Ya, ini benar-benar sedang terjadi! Sang bulan sedang berada di luar jendela kamarnya, berbicara dengannya dan menjawab pertanyaannya?
Ini sungguh luar biasa! Pikir Amaya dalam hati. Kemudian Amaya memberanikan diri untuk mengajak bulan berbicara. “Kkkamu benar bisa melihatku dari kejauhan! Kamu bahkan bisa menghampiriku. Sungguh hebat!”
Bulan tersenyum dan membalas “Tentu saja, cukup keren bukan? Dan jika aku mau, aku pun bisa mendengar apa yang kamu pikirkan. Tetapi kamu tahu apa yang lebih luar biasa? Karena keahlianku tidak hanya itu..”
Kebingungan Amaya perlahan berkurang dan tergantikan oleh rasa penasaran “Memangnya apa lagi keahlianmu? Apa kamu akan memberitahuku?”
“Aku tidak akan memberitahumu, namun aku akan memperlihatkannya langsung kepadamu. Ikuti kata-kataku. Berhati-hatilah, keluar dari jendela kamarmu dan pegang tanganku”
Amaya memberanikan diri, perlahan dia raih tangan bulan dan keluar dari jendela kamarnya. Amaya terkejut saat melihat sekeliling semua terasa ringan, dirinya sedikit merasa bergoyang karena tertiup angin. Hingga akhirnya dia tersadar kalau kakinya tidak menapak apapun. Dia sedang melayang, dia bisa terbang tanpa sayap.
Oh tidak, ini sedikit menakutkan. Pikirnya sambil berusaha menggerakan tangan dan kakinya untuk memastikan apakah dia benar-benar sedang melayang. Apakah aku akan jatuh?
“Tenang saja, kamu tidak akan jatuh. Kamu aman bersamaku, kamu hanya perlu percaya dengan pikiranmu sendiri dan denganku tentunya. Aku akan mengajakmu berkeliling sedikit” Ujar bulan memastikan.
“Wow. Aku bahkan tidak tahu kita bisa terbang tanpa sayap. Ini sungguh menyenangkan…. Hmm… Sedikit mengerikan, tetapi juga menyenangkan”. Tidak butuh waktu lama kini Amaya lebih yakin bahwa dia tidak akan jatuh.
Amaya dan bulan bergandengan tangan di udara, mereka tidak banyak berbicara saat terbang, seakan bulan membiarkan Amaya untuk menikmati perjalanannya. Keduanya hanya menikmati suasana malam ini di udara. Mereka terbang melewati banyak rumah-rumah. Sebagian rumah masih menyala lampunya dan ada juga yang sudah gelap gulita. Ada rumah yang jendelanya sudah tertutup, namun ada juga yang masih terbuka.
Dengan perlahan Amaya dan bulan terbang menyusuri perumahan. Amaya mulai bisa melihat aktivitas orang lain dari luar rumah.
Di rumah pertama, ada empat orang anggota keluarga yang terlihat sedang berbincang di meja makan sambil main kartu, di rumah kedua ada seorang pria tua berkaca mata tebal sedang menonton televisi di ruang keluarga, kemudian ada wanita paruh baya mengenakan gaun tidur berwarna biru laut yang sedang membaca buku dengan cahaya redup, di halaman perumahan dia lihat ada wanita yang baru saja memarkir mobilnya di halaman depan rumah dan bersiap masuk rumah. Kemudian ada anak-anak kecil yang masih berlarian di dalam rumah, ada rumah yang sedang memasang lagu-lagu oldies dengan volume sedikit kencang, ada samar-samar suara tawa dari acara televisi di salah satu rumah, ada yang sedang bermain alat musik piano, Amaya juga bisa mendengar tangisan bayi dari dalam rumah orang lain.
Dari satu rumah, ke rumah lainnya. Beragam aktivitas di dalam rumah yang bisa dia lihat sekilas dari kejauhan dan beragam suara pula yang samar-samar terdengar. Sesaat setelah melewati atas rumah-rumah orang lain, bulan mulai memperlambat kecepatan terbangnya dan mengajak Amaya menghabiskan waktunya untuk menikmati angin yang sejuk di malam ini.
Kemudian bulan berkata “Orang menganggap bahwa malam itu gelap dan sunyi. Tetapi menurutku itu tidak sepenuhnya benar. Seperti yang kamu lihat masih ada beberapa cahaya yang menyala dan masih ada beberapa hal yang bersuara. Dan untuk menjawab pertanyaanmu, aku tidak sendiri di langit karena ada ribuan bahkan jutaan bintang lainnya bersamaku, di malam hari aku pun juga tidak pernah kesepian karena aku bisa terbang sedikit rendah kapanpun akum au untuk mendengar banyak suara dan melihat cahaya berkilauan dari lampu kota kalian.”
Amaya mengangguk memahami ucapan bulan dan mulai menguap. Bulan hanya tertawa kecil menyadari mungkin perjalanan ini membuat Amaya mengantuk. Waktu terasa begitu singkat, akhirnya bulan memutuskan untuk terbang kembali ke depan jendela kamar Amaya. Bulan antarkan dengan hati-hati “Masuk, kembalilah ke tempat tidur dan selimutmu yang hangat, angin malam ini sudah lebih kencang dan sesaat lagi aku akan bergantian dengan matahari untuk menyinari kotamu. Tidurlah yang nyenyak. Selamat malam Amaya”.
Amaya pun menuruti kata Bulan, ia masuk ke kamar melalui jendela, naik ke tempat tidur dan menyelimuti dirinya dengan selimut yang hangat.
Setelah Amaya berbaring di tempat tidurnya, ia berkata “Ini sungguh pengalaman baru yang menyenangkan. Semoga aku bisa bertemu lagi denganmu. Terima kasih banyak bulan”. Bulan tidak menjawab apapun, hanya tersenyum dan mulai terbang perlahan meninggalkan jendela kamar Amaya untuk terbang kembali ke langit. Bulan yang tadinya tampak besar dan dekat di mata Amaya, kini kian mengecil dan semakin jauh. Amaya pun tidak sanggup lagi menahan kantuk, dia mulai menutup matanya dan tertidur lelap.
No comments:
Post a Comment